Jelajah Kabupaten Semarang – Istimewanya Desa Wisata Sepakung

Jelajah Kabupaten Semarang – Istimewanya Desa Wisata Sepakung

December 5, 2018 4 By Andre Seth

Kawan-kawanku sudah memasuki mobil. Bergumam tentang gedongsongo yang baru kami kunjungi. Hujan gerimis menyertai kepergian kami. Menuju lokasi wisata selanjutnya. Sebuah nama desa yang benar-benar baru buatku. Entah aku yang kurang uptodate atau kurangnya pemberitaan tentang desa wisata satu ini. Yang jelas, aku hanya bisa menebak isinya. It’s like open the Pandora box. Boom !!!

Geografis Desa Sepakung

Secara geografis, desa sepakung diapit oleh Gunung Telomoyo dan Rawa Pening. Untuk bisa mencapai desa wisata satu ini, kami melewati Kota Ambarawa ke arah tempat wisata Bukit Cinta di Rowo Pening. Dari situ naik ke arah selatan melewati jalan kecil. Medannya yang menantang memberi sensasi tersendiri kepada kami. Di kanan kiri kami saat itu hanyalah hutan. Setelah perjalanan beberapa menit, tibalah kami di kantor yang didominasi warna putih dan pada bagian depannya tertulis Pemerintah Kabupaten Semarang Kecamatan Banyubiru Desa Sepakung. Wow, ternyata dibalik tanjakan terjal dan berkelok-kelok itu ada sebuah Desa. Suasana sejuk menyapa kami semua, pertanda kami sudah memasuki dataran tinggi. Terlihat bukit menjulang di bagian belakang kantor desa Sepakung. Jelas, hal ini semakin membuat penasaran. Petualangan apa yang akan kami hadapi selanjutnya.

Welcome to Sepakung

Kami melanjutkan perjalanan ke sebuah rumah penduduk. Disitu para pengurus desa wisata sepakung sudah menyiapkan hidangan selamat datang untuk kami. Kamipun dengan semangat memasuki rumah tersebut. Rumah sederhana dengan cat eksterior berwarna cream dan interiornya dominan kuning. Desain sederhana khas masyarakat desa. Kami pun duduk beralaskan tikar. Dan didepan kami tersaji Jagung Rebus, Pisang Rebus, Kacang Rebus, dan favoritku singkong rebus. Hasil bumi desa sepakung terpampang di depan kami. Menggugah selera makan. Kamipun dengan sabar menunggu saatnya dipersilahkan untuk makan. Bagaimanapun kami masih menjunjung sopan santun. Walaupun perut ini sudah tidak sopan sekali, menggerutu untuk segera di isi.

Acara penyambutan pun dimulai, para pengurus desa wisata Sepakung mulai memperkenalkan diri masing-masing sembari mempersilahkan kami menikmati Panganan Ndeso yang sudah tersaji di depan kami. Benar saja, daritadi ini momen yang sudah kami tunggu. Dengan sabar kami mengantre untuk dapat menikmati sajian ini.

Sambil mendengarkan dan menikmati makanan, aku melihat ke sekeliling ruangan. Di etalase kaca, terlihat berjajar produk -produk makanan hasil produksi desa sepakung. Ada gula aren, kripik daun pegagan, keripik singkong, sampai sirup rasa jambu merah.

Sesudah menikmati hidangan pembuka tadi, kami mulai bersiap untuk menuju spot wisata pertama. Tidak lupa kami bersiap dengan segera ke kamar mandi. Agar tidak ada acara bongkar muat di tengah hutan. Ok, semuanya sudah beres. Kami berkumpul di luar rumah dan segera berangkat.

Helipad

Dua mobil pickup sudah siap mengantar kami pergi. Kamipun bergantian naik satu per satu keatas bak mobil. Memang memakai mobil pickup menjadi opsi paling bagus. Karena selain bisa mengangkut banyak orang. Kami juga bisa mengabadikan foto dan video tentang alam yang kami lewati. Kami melewati sawah-sawah yang saat itu ditanami sayur tomat. Semakin naik ke atas, jalan yang kami lalui semakin membuat jantung berdegup kencang.

Kebun kopi, dan deretan pohon aren menyambut kami. “Wah, ternyata dari sini gula aren tadi yang terpampang di etalase berasal,” gumamku. Benar saja, Bapak Romadi meng-iyakan pernyataanku tadi. Beliau berkata, Desa Wisata Sepakung juga menawarkan wisata budaya tentang mengelola hasil alam. Salah satunya menyadap aren langsung dari pohonnya. Wow, kalau kami bisa mencobanya pasti akan lebih asyik. Tapi sayangnya, menyadap aren tidak masuk dalam agenda wisata kami. Ya mungkin lain kali, Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang dapat mempertimbangkan untuk wisata satu ini. Sedikit berharap tidak masalah kan?

Terlihat dari kejauhan sebuah lokasi datar. Sebuah lahan kosong dengan beberapa hiasan di sudut-sudutnya. Mereka menyebutnya Mbalong Camping Ground. Mobil kami berhenti disini. Tampaknya kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Karena sejauh mata memandang tidak ada rute yang dapat dilalui mobil selain jalan arah kembali ke Desa Sepakung.

Aku jadi teringat penjelasan Pak romadi tadi ketika di rumah singgah. Bahwa spot yang satu ini merupakan tempat istirahat para pemburu monyet , lebih tepatnya pengusir monyet. Jadi warga masyarakat disini terkadang mengusir monyet-monyet yang turun gunung mengganggu hasil alam warga sekitar. Mereka mengusir sampai ke perbukitan dan kadang menunggu disana, memastikan mereka tidak kembali dalam waktu dekat.

Perjalanan kami dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak yang berbatu. Beruntung saat itu cuaca cerah, sehingga jalan tidak licin. Karena jalan setapak ini lebih terlihat seperti aliran air kecil yang berbatu. Jalan semakin naik dan naik, sampai kamipun dihadapkan sebuah jalanan terjal. Semangat kami tidak sekalipun kendur. Dengan pelan tapi pasti kami menaiki bukit, langkah demi langkah. Kamipun saling mengawasi masing-masing, takutnya ada yang kelelahan. Karena sebenarnya aku pun kelelahan, dengan postur badan yang sama sekali tidak proporsional ini, aku mencoba terus berjalan.

Sesampainya diatas bukit, dengan kelelahan kami disambut oleh pemandangan alam yang sangat indah. Tidak sia-sia perjuangan kami menaikinya. Lelah pasti, tapi spot Helipad ini sepadan dengan usaha kami. Helipad yang kami maksud adalah sebuah gardu pandang yang terbuat dari papan. Dengan pondasi kayu yang hanya dapat menahan beban sekitar 6 orang dewasa. Maka, sebagian dari kami cukup duduk di bagian bukit yang datar saja.

Menariknya, diantara kami semua. Yang membawa air minum cuma dua orang saja. Jadinya ya, kami bagi-bagi secukupnya. Ketika rasa lelah sudah berganti dengan rasa puas. Kami pun segera mengabadikan moment tersebut dengan foto maupun video diatas helipad secara bergantian.

Tidak terasa waktu berlalu. Kami pun ingin segera menyudahi kunjungan ke Helipad ini. Karena masih ada satu lokasi wisata lagi yang harus kami kunjungi.

Jalan terjal tadi kami lalui lagi, kali ini kami lebih berhati-hati karena jalanan yang menurun tajam. Kemungkinan terpeleset sangat tinggi, jadi kami saling menjaga satu sama lain.

Sesampainya di lokasi parkir mobil, kami beristirahat sejenak di sebuah mata air. Lokasi nya ada di sebelah barat Mbalong Camping Ground. Mata air tersebut dialirkan ke sebuah kolam yang ternyata pernah dipakai untuk keperluan syuting acara Bolang. Aku pun membasuh muka, kaki, tangan. Lelahpun seketika tertutupi dengan segarnya air ini.

Gumukreco

Setelah aktifitas hiking yg lumayan menguras tenaga. Kami pun segera kembali ke rumah singgah untuk menikmati santap siang disana. Karena kami harus segera bergegas menuju lokasi wisata selanjutnya yaitu Gumukreco.

Di rumah singgah ini kami disajikan aneka masakan spesial dari warga sekitar, ada Ikan Nila Goreng bumbu Bali, pepes ikan pedas, bakwan jagung, gudangan, dan pilihan nasipun ada dua, tinggal mau pilih pakai nasi biasa, atau nasi jagung. Tanpa basa basi, kamipun segera menghabiskan ya tanpa ada komando dari siapapun. Karena memang sudah lapar, capek, haus, dan sebagainya.

Sesudah makan, kamipun bersiap menuju lokasi wisata selanjutnya yaitu Gumukreco. Tidak ada bayangan apapun dalam imajinasiku. Aku hanya bisa menebak-nebak apa itu Gumukreco. Kali ini kami hanya memakai satu buah pickup untuk menuju kesana. Perjalanan pun ternyata lebih menantang dari lokasi wisata pertama. Jalan berkelok-kelok dengan jurang di bagian sisinya adalah pemandangan yang kami lewati.

Akhirnya setelah drama perjalanan yang lumayan menguras adrenalin. Kamipun sampai di Gumukreco. Ternyata lokasi ini sudah diketahui oleh orang-orang sehingga terdapat beberapa pengunjung disana. Untung saja tidak ada trek hiking seperti yang kami lalui di lokasi wisata sebelumnya. Kamipun segera menuju ke lokasi tepatnya Gumukreco itu.

Ternyata Gumukreco itu adalah sebuah istilah untuk batu besar yang terdapat di lokasi ini. Gumuk yang berarti gundukan, dan reco yang berarti arca. Jadi Gumukreco menurut para sesepuh disini adalah sebuah gundukan batu yang dipahat menjadi arca. Namun legendanya, sang pemahat tidak jadi membuatnya menjadi arca karena terpergok oleh warga sekitar. Sehingga gundukan batu itupun ditinggalkan begitu saja, dengan beberapa goresan di beberapa bagian batu.

Memasuki gerbang, kita diwajibkan membayar tiket masuk sebesar harga kopi satu cangkir di warung. Ya, hanya dengan Lima ribu rupiah, kita bisa masuk ke dalam lokasi wisata yang keren ini. Murah bukan.

Di Gumukreco ini, ada satu wahana yang menuntut tingkat keberanian diatas rata-rata. Mereka menyebut ya ayunan langit atau kalau dibuat bahasa kerennya Heaven Swing, sebuah ayunan yang terbuat dari kawat saling baja. Pengunjung diminta untuk membayar lagi sebesar sepuluh ribu rupiah untuk dapat menikmati wahana ini. Ya, hitung-hitung untuk sewa peralatan keamanan lah. Nantinya sang pengunjung akan duduk di sebuah ayunan dan berayun menuju jurang yang sangat dalam. Tidak terbayang jika seandainya kamu terlempar. Hanya doa yang bisa kami lakukan. Dari kamu berlima belas, hanya 3 orang yang berani menaiki nya. Sebenarnya bukan masalah nyali kami kecil. Tapi lebih ke arah kami masih banyak tanggungan di rumah. Yang muda-muda sajalah yang ikut bermain.

Saat kami asyik berfoto dan merekam video, Angin datang sangat kencang. Disertai dengan hujan gerimis. Dengan percaya diri kami mengabaikannya. Karena masih banyak yang perlu kami nikmati disini. Dan hasilnya, hujan pun datang tanpa diundang. Kami segera berlari ke sebuah bangunan dari kayu  yang menjadi tempat kami berlindung dari guyuran air hujan disertai kencangnya kipas angin sang semesta.

Dengan merapat, kami mencoba menghantarkan diri kami. Sampai kami lupa, sepatu kami diluar semua terendam air hujan. Ya, Tuhan cobaan apa lagi ini. Dalam gubuk ini kami bercengkrama dengan bapak-bapak pemandu wisata yang dari pagi tadi menemani kami. Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat. Hujan sudah mulai mereda, walau belum berhenti. Dengan agak basah kuyup. Kami segera berlari ke arah mobil pickup yang daritadi menunggu untuk mengantar kamu pulang.

Ternyata drama tidak sampai disini. Akibat hujan deras tadi. Jalan tanah di pinggir jalan masuk ini teksturnya menjadi lembek. Roda pun tidak dapat berputar sebagaimana mestinya. Dengan lagak pahlawan kehujanan kamipun para laki-laki segera membantu mendorong mobil tersebut dengan sisa-sisa semangat dan tenaga kami. Akhirnya mobil dapat lolos dari cengkeraman lumpur. Dan kamipun segera melanjutkan untuk pulang ke rumah singgah.

Di perjalanan pulang, lagi-lagi kekompakan kami diuji. Hujan pun turun, mencoba melunturkan semangat kami. Salah seorang dari kami segera membuka spanduk dan membentangkannya sebagai perisai untuk melindungi kami dari guyuran air hujan. Ukuran spanduk yang sempit. Membuat kami diharuskan untuk saling berhimpitan agar tidak kehujanan. Dan hasilnya, beberapa diantara kamu tidak berpegang pada apapun. Hanya mengandalkan tubuh kawan kami untuk menyeimbangkan badan melewati Medan yang naik turun. Berkali-kali kami berteriak. Bukan karena takut, namun untuk menyemangati diri kami masing-masing. Dan Puji Syukur kepada Tuhan. Seketika kami sampai di jalan desa. Seketika itu pula hujan berhenti. Dan kamipun tersenyum walau basah tidak terhindarkan.

Sampailah kami di rumah singgah. Tak mau lama-lama menghabiskan waktu. Kami segera bersiap pulang.

Desa Sepakung memberi kami sebuah kenangan tersendiri tentang makna kebersamaan. Desa Sepakung menjadi suatu contoh pemanfaatan dana desa secara optimal. Memori kami di desa ini sepertinya tidak akan pernah hilang kecuali memang ada yang amnesia. Sebuah memori tentang perjalanan yang menantang dan menghabiskan tenaga serta pikiran. Perjalanan yang begitu kami nikmati, indahnya alam, ramahnya penduduk desa, akrabnya kami berlima belas, dan tidak lupa kekompakan para pemandu yang selalu menjaga kami. Yuk Dolan Sepakung.

Komentar Seko Facebook