Ke Enam – Bagian 1 – Menyeberang Dimensi

Ke Enam – Bagian 1 – Menyeberang Dimensi

March 7, 2019 11 By Andre Seth

“Ron, besok bantu aku beresin akun gaji karyawan ya? ada yang ngga balance nih, Please ya ron” ajak si Linda mencoba meyakinkanku untuk membantu pekerjaannya yang membuatnya pusing hari ini. Sudah 5 tahun aku bekerja dengannya, gadis keturunan Cina ini memang menarik secara fisik, rambut panjang tergerai, kulit putih bak mulus, postur tubuh yang proporsional dan yang paling menarik adalah cara berpikir nya yang jauh berbeda dengan kebanyakan wanita seusianya membuatku tidak ragu untuk selalu membantunya. Bagaimanapun disaat tertentu dia selalu membantuku tanpa berpikir panjang.
“Iya, besok ya. Aku mau balik on time hari ini” jawabku ke Linda.
“Thanks Roni, kamu baik banget” rayu Linda untuk memastikan aku tidak berubah pikiran keesokan harinya.

Ya, namaku Roni. Seorang accounting di sebuah perusahaan oleochemical. Impianku untuk bekerja di belakang meja dengan tanggung jawab besar sudah terwujud, hanya saja jam kerja yang luar biasa panjang membuatku kehabisan tenaga sesampainya di rumah. Apalagi pekerjaan hari ini yang cukup menyita perhatianku, terlihat dari puluhan notifikasi di layar smartphoneku membuktikan tidak ada waktu luang sedikitpun.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku segera bergegas pulang mengingat ada acara arisan di rumah. Ibuku hanya sendirian di rumah, ayah pergi dari rumah tanpa kabar sudah sekitar 7 bulan. Oleh karena itu aku harus segera pulang membantunya.

“Lin, aku balik ya.” ucapku ke linda yang sedang sibuk make up. Entah mau kemana dia sore ini.
Ketika aku berjalan ke arah lift, aku melihat ada kakek tua berbaju batik coklat duduk di ruang tunggu kantorku. Pasti itu salah satu tamu Pak Joseph Subroto yang memang hari ini banyak tamu yang ingin bertemu dengannya. Manajer Keuanganku ini adalah seseorang yang sangat baik, supel, namun jika sudah masuk ke dunia pekerjaan beliau orang yang serius. Itulah mengapa beliau tidak suka menunda pekerjaan dan lebih memilih untuk melemburkan anak buahnya daripada pekerjaan tertunda sampai esok harinya.
“Pak Jono, nanti kalau bapak Joseph sudah datang, tolong diberitahu kalau sudah ditunggu tamunya.” ucapku memberitahu ke security yang yang kutemui di dalam lift. Security Itu tampak bingung “Maaf pak Roni, tamu yang mana ya?” tanyanya meragukanku. “Itu ada bapak tua di ruang tunggu manajer keuangan” jawabku tegas. Pintu lift terbuka, dan akupun segera keluar tanpa menghiraukan security yang sedang bingung mendengarkan penjelasanku.
Kulihat mendung sudah mulai gelap. Segera aku lari keluar kantor, karena aku tidak mau terjebak di kantor saat ini, bisa-bisa disuruh lembur lagi sama manajerku kalau sampai dia tau aku pulang tepat waktu.

Segera aku menuju ke shelter bus di depan kantor untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Setelah masuk ke ruang tunggu bus, aku luangkan waktu sebentar untuk membaca chat masuk yang sudah menumpuk sejak jam istirahat siang tadi. Yang pertama kubuka adalah chat dari Ibu, yang mengabarkan kalau acara arisan keluarga akan dimulai nanti malam sekitar jam 7. Tiba-tiba ada chat masuk dari Linda, yang mengabarkan dia terjebak lembur dari pak Joseph hari ini. Aku balas chatnya agar dia jangan khawatir, karena semua sudah beres. Hanya perlu diperiksa ulang sebelum dilaporkan ke pak Joseph.

Tidak berapa lama bus yang mau kutumpangi datang, aku dan keempat penumpang lainnya segera masuk ke dalam bus. Hari ini sepertinya ada yang aneh, biasanya jam segini bus akan penuh sesak. Sudahlah, tidak begitu penting bagiku. Yang terpenting aku bisa duduk setelah lelah dengan kerjaan hari ini.

Rasa lelahku hari ini mulai memicu rasa kantuk yang begitu hebat. Aku rasa tidur sebentar tidak akan masalah mengingat jarak menuju tempat tujuanku biasanya menghabiskan waktu sekitar satu jam.

Waktu cepat berlalu, akupun terbangun. Tidurku kali ini lelap sekali. Aku kaget melihat pemandangan diluar bus yang terasa asing. Aku sama sekali tidak tau daerah sini dan sepertinya aku melewati tempat tujuanku terlalu jauh. Segera aku beranjak dari tempat duduk ku menuju kursi sopir. “Pak, saya turun disini saja.” pintaku ke sopir agar bus berhenti. Sopir bus itu seperti tanpa ekspresi dan menghentikan laju busnya. Aku turun dengan perasaan janggal, bahkan seluruh orang yang ada di buspun duduk tanpa ekspresi. Mengingat kejadian di bus tadi membuatku merinding. Beruntung aku sudah turun dari bus itu.

Aku turun di depan sebuah warung tenda kecil yang sedang tutup dan kanan kirinya adalah kebun yang ditumbuhi semak belukar. “duh dimana aku ya? sepi banget disini” gumamku. Aku duduk di depan warung dan merogoh saku kemejaku, dan membuka layar smartphoneku. Jika aku bisa tau posisiku sekarang lewat gps. Pasti aku bisa tau bagaimana aku bisa pulang. Namun, setelah smartphone terbuka tidak ada sinyal operator terdeteksi. Padahal aku memakai operator selular yang terkenal dengan sinyalnya yang kuat hingga pelosok desa. Tidak kehilangan akal, aku coba membuka pengaturan sinyal untuk mengetahui sinyal dari operator selular mana yang ada di lokasi itu. “Ah, ga mungkin banget. Masa ga ada sinyal dari operator manapun” ucapku tidak percaya dengan yang terjadi.

Segera move on dari situasi yang tidak mengenakkan itu. Aku berjalan menuju arah berlawanan dengan bus yang aku tumpangi tadi. Jalan Raya ini begitu sepi tidak ada Seorang pun yang lewat. Di seberang jalan pun cuma bangunan rumah khas désa namun dengan semua pintu dan jendela tertutup. Suasana mencekam itu seperti menerorku. Aku mulai mempercepat langkah kakiku dengan harapan aku bisa bertemu orang lewat dan bertanya, sebenarnya aku ada dimana.

Setelah berjalan kira-kira 112 meter aku melihat seorang berseragam polisi sedang berdiri sendirian di pinggir jalan. Dengan perasaan lega aku segera mendatangi nya dengan berbagai pertanyaan yang menyelimuti otak kecilku ini.

“Permisi pak, mau bertanya, kalau mau ke arah Kota saya harus kemana ya?” tanyaku penuh harap walaupun polisi itu masih membelakangiku. Segera setelah polisi itu membalikkan badannya aku terkejut, tiba-tiba bulu kudukku berdiri dan rasa takut menyelimuti seluruh tubuh. Bagaimana tidak, sosok polisi yang aku tanyai tadi penuh dengan luka di dadanya, dan mukanya sudah rusak tidak berbentuk.

Rasa takut menyuruhku segera berlari menjauhi sosok itu, tapi disaat bersamaan rasa kaget membuat kakiku lemas. Sampai akhirnya kubulatkan tekadku untuk berlari menjauhi sosok polisi itu. Ketika aku berlari dari arah kanan ada sosok perempuan bergaun putih yang terbang mendampingiku dengan tawa kecilnya yang seolah aku ini layak ditertawakan. Akupun terus berlari kencang tanpa melihat ke arah kanan. Rasa lelah mengurangi kecepatan berlariku. Kepalaku tidak berani menengok ke arah kanan, tiba-tiba dari arah kiri muncul sosok pocong melompat ke arahku. Rasa lelah yang tadi muncul tiba-tiba hilang dan akupun sanggup berlari lagi dengan kencang. Jalan di depanku ini seperti tidak berujung, karena seberapa cepat aku lari. Sepertinya kanan kiriku masih kebun, dan hanya diselingi beberapa rumah khas pedesaan. Tidak berapa lama didepanku ada seseorang berteriak ke dua sosok yang mengejarku. “Pergi, jangan mengganggu orang ini!” Kuntilanak dan pocong itupun segera pergi menghilang.

Namun, dari belakang orang itu muncul sosok hitam tinggi besar dengan mata menyala. Akupun tertunduk lemas, menerima apapun yang akan terjadi. Bagaimanapun stamina ku sudah habis dan aku pasrah.

“Kamu juga jangan macam-macam dengan saya” ancam orang ini ke sosok hitam itu. Dengan tatapan yang tegas, orang ini membuat sosok hitam itupun segera mundur. Seolah-olah sosok hitam itu tidak ingin berurusan dengan orang ini.

“Kamu tidak apa-apa, mas Roni?” Tanyanya memastikan keadaanku. “Tidak apa-apa pak, terima kasih” jawabku tanpa lupa berterima kasih sudah diselamatkan dari kengerian yang biasanya cuma ada di film-film yang aku tonton. Aku kaget bagaimana dia bisa tau namaku Roni padahal kami belum pernah bertemu. Sosok pria itu memiliki tubuh tegap, dengan tinggi badan tidak berbeda denganku yang cuma 175 cm dan berbaju batik coklat. Aku jadi ingat tadi waktu di kantor aku bertemu dengannya. “Tapi bagaimana bisa dia tau namaku?” tanyaku dalam hati. Aku merasakan aura yang berwibawa menyelimuti orang ini. “Panggil aku Bimo, ikut aku ke keraton, kamu sudah kami tunggu daritadi” ucapnya seolah-olah mengenalku. “Maaf, tapi bapak siapa ya?” tanyaku penuh heran. “Sudah ikut saja dulu, daripada kamu nanti bertemu sosok-sosok yang akan selalu mengganggumu jika kamu tetap disini” ujarnya sambil berjalan masuk ke arah kebun di sebelah kananku.

Aku berjalan melewati jalan setapak, dengan kanan kiriku berupa kumpulan semak dan pohon yang sangat rindang. Jalan setapak ini hanya diterangi oleh obor kecil yang ditopang oleh tiang bambu yang ditancapkan. Melihat situasi yang sebentar lagi malam, aku melangkahkan kakiku agak cepat agar tidak tertinggal bapak tadi. Di sebelah kiriku aku melihat pohon besar dengan sosok Kuntilanak duduk santai di atas batang nya sambil memperhatikanku. Merasa diawasi aku segera mendekat ke pak Bimo yang ada di depanku. Sebenarnya aku masih belum percaya dengan pak Bimo, tapi bagaimanapun orang ini yang menyelamatkanku dari teror 3 makhluk seram tadi.

Komentar Seko Facebook