Ke Enam – Bagian 2 – Keraton Alas Putih

Ke Enam – Bagian 2 – Keraton Alas Putih

March 11, 2019 3 By Andre Seth

Aku berjalan mengikuti Pak Bimo. Rapatnya vegetasi dan malam yang datang perlahan mengurangi jarak pandangku sampai akhirnya terlihat sebuah pohon besar di depan kami. Pak Bimo pun menghentikan langkahnya, “Mas Roni, mohon tunggu sebentar.” pintanya kepadaku. Sesaat kemudian dia tampak membaca sesuatu dan sesaat kemudian muncul kabut tipis di sekitar kami, kabut ini semakin naik menjadi semakin tebal. Sampai terlihat kabut itu seperti mengelilingi kami dan sejauh yang terlihat hanyalah kabut putih pekat dan bayangan pak bimo yang ada di depanku. Tidak makan waktu lama kabut pekat di depanku membentuk sebuah lingkaran gerbang dimensi bercahaya putih dengan diameter sekitar 3 meter. Pak Bimo segera mempersilahkan aku untuk berjalan masuk ke gerbang dimensi itu. Aku berjalan pelan memasuki gerbang dimensi diikuti oleh Pak Bimo di belakangku. Mungkin dia berjaga-jaga dari makhluk-makhluk lain yang mengintai kami karena saat berjalan di jalan setapak tadi, makhluk beragam jenis dan bentuk mengawasi dengan tatapan tidak bersahabat namun tanpa berani mendekat.

Baru beberapa langkah masuk ke dalam gerbang dimensi. Aku disambut oleh pemandangan dua pohon besar berjajar dengan batang berwarna putih seolah pohon itu adalah dua orang raksasa yang berjaga. Daun-daunnya yang lebat menambah kesan besar pada pohon itu. Terlihat di belakang pohon besar itu adalah gerbang keraton yang berukuran cukup besar, aku rasa sebuah truk kontainer pun mampu masuk melewatinya. Pintu gerbang itu berwarna putih dengan guratan alami kayu menghiasi bagian depannya. Bangunan keraton ini dikelilingi oleh tembok putih setinggi 3 meter menjulang. Dan yang mengerikan adalah adanya dua penjaga berbentuk seperti monyet besar berwajah garang memakai baju pelindung dengan gada* (sebuah senjata seperti tongkat kasti berukuran besar) sebagai senjatanya.

Pak Bimo pun membuyarkan rasa kagumku dengan berucap “Selamat Datang di Keraton Alas Putih, ayo mas Roni, kita segera masuk kedalam.” Pintu gerbangpun terbuka dan kami mulai berjalan masuk. Kedua raksasa penjaga itupun hanya menunduk saat kami berdua melewatinya. Aku bergumam dalam hati, “Sepertinya pak Bimo ini adalah orang penting sampai dua raksasa inipun hanya menunduk dengannya.” Masih banyak yang ingin aku ketahui tentang sosok misterius bernama Pak Bimo ini.

Di dalam keraton sudah menunggu empat orang abdi dalem dan dua orang prajurit di depan pendopo. Aku melihat puluhan prajurit berlari ke arah sisi kanan keraton. Salah satu dari abdi dalem menghampiri kami dan berbisik ke Pak Bimo. Seketika itu juga raut muka Pak Bimo berubah menjadi tegang.

Pak Bimo menugaskan salah satu abdi dalem untuk mengantarku ke pendopo bagian dalam. Sedangkan Pak Bimo dengan dua prajurit serta tiga abdi dalem segera pergi ke sisi kanan keraton dengan terburu-buru. Secara penampilan mereka tampak seperti manusia pada umumnya. Hanya saja cara berpakaiannya masih menggunakan busana tradisional zaman kerajaan jawa kuno.

Aku bertanya kepada abdi dalam yang menemaniku masuk ke dalam pendopo, “Kemana Pak Bimo pergi ya?” dan abdi dalem itupun menjawab, “Belum waktunya kamu tau, ikuti aku saja ya.” Tapi dilihat dari seriusnya orang-orang ini bicara. Pasti ada hal yang tidak baik sedang terjadi disini.

Kami berdua masuk ke dalam pendopo. Abdi dalem itu memintaku untuk segera mengikutinya. Dari arah pendopo dalam keluarlah seorang wanita cantik berkebaya putih dengan wajah khas wanita jawa menyambutku, “Mas Roni, Perkenalkan saya Nyi Ratih Sukmo Buwono panggil saja Nyi Ratih, silahkan ikuti saya masuk kedalam.”

Selang beberapa detik setelah Nyi Ratih memperkenalkan dirinya, tiba-tiba ada seperti gempa besar dan membuat suara gaduh seperti ledakan dan disertai runtuhnya beberapa bangunan keraton. Terlihat asap besar membumbung dari arah sisi kanan keraton. Aku jadi teringat Pak Bimo berjalan ke arah itu tadi. “Kalian segera amankan mereka berenam, bawa kembali ke dunianya!” ucap salah seorang dari dalam pendopo memberi perintah. “Kita sudah tidak bisa melindungi mereka di tempat ini.” lanjutnya memberi penjelasan. Tampaknya selain diriku ada lima orang lagi yang datang dari duniaku. Seketika itu juga keadaan jadi tidak terkendali. Bangunan pendopo luar yang saat ini aku berada tiba-tiba bergoyang dan hendak runtuh. Aku yakin orang yang memberi perintah tadi adalah pemimpin di keraton ini.

Aku sangat penasaran namun tidak bisa melihat wajah orang yang memberi perintah itu secara jelas karena jaraknya terlalu jauh. Mataku yang minus inipun memperparah suasana. “Kita harus segera pergi ke Gerbang Kecil, tolong ikuti saya!” ajak Nyi Ratih sembari berlari ke arah lorong sebelah kiri keraton. Tanpa pikir panjang aku mengikutinya. Dan seketika itupun bangunan pendopo luar runtuh.

Gempa yang tadi muncul tidak berhenti sampai disitu. Dari arah sisi kanan keraton terdengar suara logam bergesekan, dan teriakan-teriakan perang menggema. Dan yang lebih menakutkan lagi semua api di keraton ini tiba-tiba padam. Sepertinya ini bukan gempa biasa. Keraton ini diserang sesuatu yang mistis dan kuat.

Berlari dalam gelapnya lorong membuatku tidak bisa melihat jelas lintasan yang aku lewati dan benar saja, aku terjatuh tersandung kayu reruntuhan keraton. Sesaat setelah aku jatuh tersungkur dari arah kiriku muncul suara “Kekuatan pasukan Rekso Geni benar-benar menghancurkan keraton ini.” Mencoba mencari figur yang berucap seperti itu tapi sejauh yang kupandang aku hanya melihat sosok anak kecil seumuran anak SD yang terperangah dengan runtuhnya keraton. Aku melihat di bagian atap diatas anak kecil itu akan segera runtuh menimpanya. Segera aku berdiri dan menariknya kearahku. Dan runtuhlah ruangan itu, beruntung aku sudah menyelamatkannya. Aku berpikir sejenak, mungkin anak ini adalah salah satu dari Enam orang yang disebutkan orang itu tadi di pendopo dalam. Dan akupun melanjutkan lariku ke arah yang ditunjukkan Nyi Ratih tadi sambil menggendong anak kecil itu di belakang. Sepertinya anak itu shock sehingga waktu aku gendong, dia hanya diam saja dan tidak berkata apa-apa.

Tidak berapa lama aku bertemu Nyi Ratih yang sudah membuka gerbang dimensi. Melihat aku menggendong sosok anak kecil, Nyi Ratih tampak kaget dan menunduk diam. “Segera masuk ke gerbang dimensi itu!” teriak anak kecil itu kepadaku. Aku bingung, namun seketika itu Nyi Ratih memberi sinyal anggukan untuk mengikuti omongan anak kecil ini. Akupun masuk ke gerbang dimensi itu diikuti oleh Nyi Ratih dibelakangku. Nyi Ratih lalu berteriak kepada seseorang dibelakangnya, “Marsha, kamu ikuti Nyi Galuh dan selalu didekatnya!” Setelah menembus gerbang, tibalah kami di padang rumput luas. Di gerbang dimensi aku melihat Nyi Ratih keluar diikuti seorang wanita dan seketika itupun tiba-tiba aku lemas dan pingsan.

Aku terbangun, namun saat ini bukan di sebuah padang rumput. Namun, di sebuah kamar. Sepertinya ini kamar di rumah sakit, tampaknya aku sudah kembali ke duniaku. Aku melihat ibu menungguku dengan raut wajahnya yang khawatir. “Roni, bangun nak!” ucap ibu mencoba mengembalikan kesadaranku. Aku teringat sebelum aku pingsan tadi, terlihat secara samar ada orang-orang yang keluar dari gerbang dimensi itu. Siapa mereka? Bagaimana nasib Nyi Ratih dan anak kecil yang aku gendong tadi? Pertanyaan-pertanyaan itu yang muncul pertama kali setelah aku siuman dari pingsan.

Komentar Seko Facebook