Ke Enam – Bagian 3 – Kehidupan Baru

Ke Enam – Bagian 3 – Kehidupan Baru

March 28, 2019 0 By Andre Seth

“Ron, bangun nak” terdengar suara ibu mencoba membangunkanku. Aku berusaha untuk sadar dan membuka mata perlahan. “Aku dimana, bu?” tanyaku bingung. “Kamu ada di rumah sakit nak, sudah dua hari kamu pingsan” jawab ibuku menjelaskan. “Apa yang terjadi, bu?” tanyaku meminta penjelasan lebih detail.

Ibu hanya terdiam, “Kamu pingsan di dalam bus saat pulang kerja, dan akhirnya kamu dibawa ke rumah sakit ini.” jawab om Gunawan. Om Gunawan adalah adik dari Ayahku, sejak ayahku pergi meninggalkan aku dan ibuku. Om Gunawan lah yang membantu kami bertahan.

Masih terlintas dalam benakku pengalaman di dimensi lain itu. Terasa begitu nyata seperti aku benar-benar masuk di dalamnya. Tapi aku mencoba untuk realistis, mana ada dunia seperti itu. Mungkin aku hanya lelah sampai imajinasiku kemana-mana.

Aku bertanya ke Ibu mengenai smartphoneku “Bu, hpku mana ya? aku harus kabarin kantor.” Ibuku cuma senyum saja mendengarkan pertanyaanku. “Orang kantor sudah tau, itu Linda sudah panik ketika kamu tidak ke kantor keesokan harinya dan datang menemui ibu.” jawab ibu sambil tersenyum kecil terkesan karena ternyata anaknya diperhatikan oleh orang lain.

Linda memanglah teman yang paling perhatian denganku. Ada sedikit saja yang aneh denganku dia pasti mengetahuinya. Dan sekarang mengetahui dia seperhatian itu denganku, sesaat aku merasa aneh. Kenapa aku jadi senang ya. Mungkin hanya karena aku sudah sadar dan bertemu ibu.

Sesaat kemudian, dokter datang menemui kami bertiga. “Permisi Bapak, Ibu, boleh kami cek dulu kondisi kesehatan Roni sebentar?” tanya dokter meminta ijin untuk memeriksaku.

Dokter menganalisa mulut , mata dan detak jantungku. “Hmm.. , kondisinya sudah membaik dan semuanya terlihat sehat, besok pagi Roni sudah bisa pulang ke rumah.” dokter itu memberi penjelasan ke ibu. Sepertinya semua tampak baik-baik saja jadi besok aku sudah bisa pulang. Mengingat ini juga sudah sore, menginap satu malam lagi tidak akan menambah biaya.

“Ini ron, hp mu.” ibu memberiku smartphone yang sempat aku tanyakan tadi. Aku menyalakan smartphoneku. Begitu sinyal internet masuk, berderet notifikasi di akun-akun media sosialku bermunculan.

Kesibukan membaca satu persatu notifikasi di media sosial membuatku tidak sadar ada seseorang datang menjengukku. Linda datang sendiri dengan wajahnya yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. “Ron, kamu sudah sadar?” tanyanya. Aku tertegun melihatnya, Linda datang dengan dress warna putih, rambut panjangnya terlihat tergerai. Aku pun menjawab pertanyaannya dengan sedikit tergagap “I…Iya, sudah sehat dan kuat” jawabku masih tertegun dengan sosok bidadari di depanku. Melihat keakraban kami, Ibu dan Om ku seperti mendapat sinyal kalau mereka harus menjauh sejenak dan bergegas keluar meninggalkan kami berdua sendiri.

“Tante mau kemana?” tanya Linda kepada ibuku. “Tante sama Om mau mengurus administrasi, tolong jaga Roni dulu ya.” jawab ibuku dengan senyum penuh arti.

“Siap tante, akan selalu aku jagain biar ga bisa kemana-mana” jawab linda sambil bercanda.

Tidak terasa sudah jam 8 malam. Jam besuk pun sudah berakhir dan perawat sudah mengingatkan Linda berkali-kali untuk segera pulang. Tapi memang dasar Linda orangnya “bandel”. Dia tidak menghiraukan perawat itu.

Tiba-tiba ibu dan om datang dan meminta Linda untuk keluar ruangan untuk diskusi sebentar. Dalam pikiranku terus bertanya, apa yang mereka bertiga diskusikan sampai aku tidak boleh mendengarnya.

Tidak berapa lama, mereka bertiga memasuki ruangan. “Ron, malam ini kamu dijagain sama Linda ya, Ibu sama Om mau pulang dulu.” kata ibuku dengan senyum yang ditahan. “Besok pagi, kamu om jemput pakai mobil om, sekalian antar Linda pulang.” tambah Om Gunawan meyakinkanku untuk tidak khawatir akan kepulanganku besok.

“Tenang aja, aku uda kabari mama kalau aku nemenin kamu di rumah sakit malam ini.” kata Linda seperti tau apa yang aku ingin tanyakan. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang berbeda, dan dalam hati aku senang ada Linda yang selalu disampingku bagaimanapun kondisiku.

“Ya udah, kalian lanjut deh ngobrolnya. Ibu sama Om pamit pulang.” kata ibu seraya mengulurkan tangannya ke mukaku. Aku mencium tangan ibu dan berkata “Makasih bu, hati-hati di jalan.” Perlahan merekapun berjalan keluar ruang dan menghilang dibalik pintu kamar.

Jam-jam berikutnya aku habiskan dengan ngobrol dan bercanda dengan Linda. Mulai dari ngobrolin kerjaan sampe urusan percintaan masing-masing. Sampai tidak terasa Lindapun tertidur disampingku. Aku yakin dia lelah sekali hari ini. Biasanya jam 8 malam dia sudah tidur. Hari ini dia menahan kantuknya sampai jam 11.30 malam.

Melihatnya tidur, akupun pelan-pelan mulai tertidur. Belum sampai tertidur pulas aku merasakan hal yang aneh. Tiba-tiba lampu ruangan ini mati. Dan anehnya hanya di ruangan ini, lampu di teras luar masih menyala. Aku mencoba melihat disekitarku, aku lega Linda masih tertidur dengan posisi duduk yang sama sekali tidak enak. Tapi tetap saja dia tertidur pulas. Akupun tidak berani mengganggu tidur nyenyaknya.

Di sebelah kiri dari ranjang tempatku terbaring ini ada sebuah jendela kaca dengan korden kain berwarna biru muda yang tidak tertutup secara sempurna. Dari celah korden itu, muncul bayangan putih seperti kain. Sosok itu hanya mondar mandir di bagian belakang ruanganku itu. Sampai akhirnya sosok itu berhenti dan memalingkan wajahnya kearahku, seperti menyadari bahwa aku merasakan kehadirannya sejak tadi. Wajah pucatnya dan mata gelapnya hanya mengintip dibalik celah korden di jendela kaca. Kuntilanak adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan sosoknya itu. Aku ingat waktu di dimensi lain dan bertemu makhluk yang sama. Saat itu kuntilanak terbang mengejarku sambil tertawa dengan ekspresi jahat. Kali ini lain, tingkah lakunya bukan seperti kuntilanak yang kutemui di dimensi lain itu. Wajahnya juga berbeda, seperti wajah seorang gadis dengan rentang usia sekitar dibawah 20 tahun. Dia memandangiku dengan ekspresi sedih. Kali ini aku juga melihat aura berwarna abu-abu mengelilingi sosok kuntilanak itu. Entah, apa yang terjadi dengan penglihatanku sekarang. Aku hanya melihat dan bertanya dalam hati. “Siapa kamu?”

Sosok kuntilanak itu menjawab “Aku Tika, tolong bantu aku, aku tersiksa, tolong.” Aku kaget, kami berdua seperti menggunakan telepati untuk berkomunikasi. “Tolong apa?” tanyaku penasaran dengan apa yang terjadi. Perlahan sosok kuntilanak itu menembus jendela dan tembok di sebelah kiriku. Namun, tiba-tiba kuntilanak itu terpental ke belakang. Diikuti dengan munculnya Nyi Ratih dengan aura berwarna putih dari samping kananku.

“Tidak usah dekat-dekat! Awas kamu!” ancam Nyi Ratih ke sosok kuntilanak itu. “Maaf Nyi, saya hanya mau minta tolong.” jawab sosok kuntilanak itu. Akupun bertanya kepada Nyi Ratih “Apa yang terjadi denganku Nyi? Kenapa aku melihat warna-warna aura di sekitar kalian?”

Nyi Ratih tersenyum kepadaku dan berkata “Sepertinya kemampuan indra ke enam mu mulai muncul den Roni.” Kemampuan apa yang dimaksud Nyi Ratih. Akupun mulai menyadari kalau apa yang aku alami kemarin-kemarin itu semua adalah nyata dan berhubungan dengan kemampuanku melihat warna-warna aura ini.

Aku melihat ke arah Linda, aura putih abu-abu muncul di sekitarnya. “Tidak usah takut dengan kemampuan mu melihat aura, itu hanya kemampuan dasarmu.” kata Nyi ratih mencoba menenangkanku yang tampak gelisah. “Dalam dunia ini semua yang bernyawa akan mengeluarkan aura, dan semua benda yang mengeluarkan aura itu bernyawa.” tambahnya seraya menjelaskan kemampuanku.

“Lalu apa arti warna-warna aura ini?” tanyaku

“Warna abu-abu berarti sesuatu yang biasa, tidak baik ataupun buruk, cenderung netral. Warna putih berarti dia baik tidak memiliki sedikitpun niat buruk dan memiliki kekuatan untuk melakukan kebaikan. Dari semua warna hanya warna merah yang wajib kamu waspadai. Warna amarah, penuh kejahatan.” jawab Nyi Ratih menjelaskan kebingunganku akan indra ke enam ini.

“Kamu siapa, dan kenapa datang ke Den Roni?” tanya Nyi Ratih ke sosok Kuntilanak itu.

“Saya Tika, pertama saya penasaran dengan pasien baru rumah sakit ini makanya saya datang kesini, siapa tau dia bisa membantu saya.” jawab sosok Kuntilanak bernama Tika.

“Bantuan apa yang kamu maksud?” tanya Nyi Ratih lebih jauh

“Bantu saya pulang ke dimensi halus, saya terjebak di dimensi ini dan tidak bisa pulang.” jawab Tika penuh kesedihan

“Apa yang bisa kami bantu?” tanyaku ke Tika

“Benarkah aden mau membantuku?” tanya Tika penuh harap

“Selama aku bisa melakukannya, pasti aku bantu, kenapa tidak?” jawabku ke Tika

Melihat responku, Nyi Ratih hanya tersenyum. Sepertinya Nyi Ratih senang aku membantu sosok kuntilanak bernama Tika ini.

Linda, Nyi Ratih, Tika, dan indra ke enam ini menjadi awal mulaku memulai kehidupan baru ini.

Kehidupan yang tidak pernah aku bayangkan akan terjadi. Hidup yang dimulai dari kepulanganku naik bus menyeberang dimensi, bertemu Ki Bimo, dan kehancuran Keraton Alas Putih. Jalan yang akan menyisakan misteri, akan ada apa di Masa Depan nanti.

Komentar Seko Facebook