Pengelolaan Dana Desa untuk Kesejahteraan Masyarakat

Pengelolaan Dana Desa untuk Kesejahteraan Masyarakat

November 12, 2018 6 By Andre Seth

Dana Desa untuk Pembangunan

Dalam 4 tahun ini pemerintahan Bapak Joko Widodo, sudah banyak infrastruktur baru terbangun. Jalan di desa sudah nyaman untuk dilewati masyarakat pedesaan. Dengan kokoh, jalan beton itu menopang kehidupan warga. Hujan bukan lagi alasan untuk di rumah. Lumpur bukan menjadi kendala untuk berjuang. Siklus distribusi menjadi lebih cepat. Ditambah pemerataan jaringan listrik, kehidupan desa berubah. Jalan desa yang dulu gelap, sepi dan berbahaya sirna. Kecepatan koordinasi antar aparat meningkat. Menara komunikasi menjadi jembatan kehidupan. Hubungan antar warga menjadi instan. Ketakutan masyarakat untuk keluar rumah sesudah maghrib pun berkurang. Geliat perekonomian rakyat mulai terjadi. Ya, semua itu karena infrastruktur.

Kehidupan masyarakat daerah mulai berubah. Pola hidup mulai berubah lebih baik. Pasangan muda mulai melirik desa sebagai pilihan tempat tinggal. Suara riang anak kecil di sore hari banyak terdengar. Warung yang dulu sempat sepi kini ramai. Perubahan itu terjadi nyata. Perubahan sebuah pola kehidupan. Yang dulu ditinggalkan warganya. Demi rejeki yang tidak seberapa, dibandingkan dengan waktu bersama keluarga.

Perubahan ini tidak selalu positif. Banyak pula hal negatif yang ikut berkembang. Dengan masuknya segala informasi. Hal negatif pun juga ikut masuk. Mempengaruhi kehidupan masyarakat desa. Gaya hidup perkotaan mulai banyak dipakai. Banyak generasi muda yang terjerumus di dalamnya. Pemuda pemudi desa jadi sasaran empuk peredaran miras dan narkoba. Banyaknya pengangguran bukan karena tidak ada lapangan kerja. Tapi lebih karena kurangnya kesadaran untuk bekerja. Cepatnya informasi dengan tidak diimbangi dengan literasi. Masyarakat hanya menerima informasi tanpa dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Dan akhirnya, bukan manfaat hanya berbagai masalah yang didapat.

Merubah sudut pandang menjadi sebuah solusi. Karena jeruji besi bukan cara menyelesaikan masalah. Generasi muda tidak harusnya dirusak. Baik oleh gaya hidup negatif, maupun oleh hukum yang tidak mengenal ampun. Mereka hanya menjadi korban. Dari minimnya literasi dan banjirnya informasi. Informasi yang seharusnya bisa mereka pilih dan pilah. Mana yang baik mana yang harusnya ditolak. Merubah sudut pandang tidak bisa sendiri. Butuh setiap elemen masyarakat untuk ikut berdiri.

Kesadaran Literasi

Literasi harusnya sudah dimulai dari usia dini. Sebelum mereka terkena arus informasi. Terlambat bukanlah hal untuk disesali. Karena jika hanya diam kitalah yang paling akan menyesal. Masyarakat desa masih bisa dididik. Dengan kesabaran dan kemauan. Mulai dari kelompok-kelompok kecil. Karena semuanya dimulai dari yang kecil. Memanfaatkan Kuliah Kerja Nyata suatu universitas di pedesaan juga salah satu langkah yang sudah dilakukan. Namun hal ini tetaplah butuh penyempurnaan.

Penggunaan dana desa untuk membangun pusat baca untuk masyarakat adalah salah satu solusi. Walaupun tidak instan seperti infrastuktur, namun ini merupakan suatu pondasi yang penting. Pusat baca yang dikelola dengan baik, akan memberikan manfaat yang lebih untuk masyarakat itu sendiri.

Pengelolaan pusat baca pedesaan, lebih baik diserahkan ke karang taruna. Mereka dapat menikmati koleksi buku disana dan mendapatkan ilmu yang berbeda dari yang di sekolah. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk belajar mengelola suatu usaha. Namun tetap butuh pendampingan. Minimal dari aparat desa dan pihak swasta sebagai contoh akademisi kampus. Kunjungan rutin tamu-tamu dari luar daerah juga diperlukan. Selain untuk menambah ilmu, juga untuk memberikan motivasi. Karena mudah untuk membangun sesuatu, tapi butuh usaha berkali-kali lipat untuk merawat dan menjaganya.

Untuk pendanaan awal, sekian persen dari dana desa bisa dialokasikan. Ketika nanti sudah berjalan, donasi dari pihak ke tiga pasti akan mengalir. Baik itu CSR Perusahaan, donasi dari warga sekitar, maupun hibah pemerintah. Semua akan berjalan lancar jika dikelola dengan baik dan bertanggung jawab.

Sekali lagi, ini bukan cara yang instan. Namun manfaatnya akan berlangsung selamanya. Dengan meningkatkan kesadaran literasi maka kesejahteraan akan mengikuti. Kita tidak perlu lagi mengirim tenaga kerja untuk menjadi buruh, melainkan menjadi tenaga ahli professional yang terampil di bidangnya. Kita mampu. Karena kita Indonesia.

Komentar Seko Facebook