Sumogawe, Harmoni Tradisi dan Modernisasi

Sumogawe, Harmoni Tradisi dan Modernisasi

October 29, 2019 0 By Andre Seth

Priiiit… Para prajurit mulai melangkahkan kakinya. Tegas langkah menghunjam bumi. Memberi pesan “Kami siap berperang untuk desa kami, Sumogawe!”. Kuda-kuda disiapkan, pedangpun diayunkan. Mereka bergerak dalam harmoni sesuai komando sang pemimpin.

Diiringi genderang mereka maju berperang. Lewat budaya mereka siapkan pedang. Melawan sikap apatis yang telah meradang. Merongrong nilai – nilai kemanusiaan dalam keberagaman.

Tarian Prajuritanpun usai dilakukan. Suasana yang ramai itu mendadak mulai tenang. Menyongsong waktu sholat Azhar. Di tempat ini budaya dan agama saling mencintai. Tidak ada mana yang paling benar. Mereka duduk bersama dalam harmoni. Mencari jalan tengah, bukan jalanku ataupun jalanmu. Hanya jalan untuk bergandengan tangan.

Sumogawe menampar logika “mind your own business” dengan tradisi Saparan mereka. Tradisi membuka rumah dan mempersilahkan masuk para kerabat. Kegiatan open house dengan bumbu kearifan lokal. Aneka makanan baik ringan maupun berat semua tersaji, terutama jenang abang putih , makanan tradisional yang bermakna dalam dan wajib untuk dicicipi. Sekarang giliran logika “mind your own appetite”, karena salah strategi makan bisa membuat perut anda overcapacity. Karena sudah kewajiban ketika kita mengunjungi salah satu rumah warga, makanan yang disajikan harus kita nikmati.

Tua muda semua bersatu dalam bingkai Saparan. Bersatu menikmati hasil susu, rejeki dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Hasil dari 90% lebih warga yang menggantungkan hidupnya dari susu sapi dan berbagai macam olahannya. Modernisasi dimanfaatkan dengan baik oleh warga Sumogawe. Mulai dari peningkatan nilai produk susu sampai ke pengolahan limbah dari kotoran sapi.

Riset D.P Morgavi tahun 2008 mengenai emisi gas metan pada sapi perah seakan sudah dipahami oleh mereka dengan membuat reaktor biogas dari kotoran sapi dengan harapan dapat membantu mengurangi efek pemanasan global sekaligus menjadi sumber energi alternatif untuk kegiatan sehari-hari.

Mbah Sumokerto dan Nyai Gawe sepertinya boleh berbangga dan senang disana. Melihat keturunannya menjaga dengan baik desa yang susah payah mereka berdua dirikan.

Waktu berjalan sangat cepat. Sore menjelang tanpa memberi aba-aba. Jelajah kabupaten Semarang di Desa Sumogawe telah berakhir. Satu persatu dari kami mulai naik ke dalam bis. Duduk diam dan berkata dalam hati. “See you Sumogawe, You are Awesome !!”

Komentar Seko Facebook